TAKSIRAN PIUTANG TAK TERTAGIH KELAS 11 SEMESTER 1

 

 

Taksiran Piutang Tak Tertagih

Dalam praktik akuntansi terutama untuk basis akrual, timbulnya utang dan piutang merupakan hal yang wajar  dan biasa terjadi. Untuk piutang, biasanya timbul karena kebijakan kredit dari perusahaan dalam penjualan barang atau jasa perusahaan kepada pihak lain. Namun, terkadang terjadi suatu keadaan tidak tertagihnya sebagian piutang oleh perusahaan, hal ini merupakan konsekuensi dari kebijakan kredit yang biasanya dilakukan oleh perusahaan yang bertujuan meningkatkan penjualan barang atau jasa perusahaan, Hendriksen dan Breda dalam Sugiri dan Sumiyana (2005) mengungkapkan tidak tertagihnya piutang mencerminkan aliran keluar (outflow) aktiva atau aset sebagai upaya untuk memperoleh pendapatan (revenue).

Oleh karena itu, piutang tak tertagih dikategori sebagai biaya (expense). Meskipun begitu, terdapat pandangan teoretis bahwa piutang tak tertagih (bad debt) diakui sebagai pengurang penjualan, serupa dengan perlakuan potongan penjualan dan retur penjualan.\

Untuk penaksiran kerugian dari piutang tak tertagih biasanya digunakan dua metode yaitu:

a.       Metode cadangan, yang mengakui rugi piutang tak tertagih pada periode penjualan kredit yang sedang berjalan dengan cara menaksir dan bukan pada saat periode dihapusnya piutang.

b.      Metode langsung, atau metode penghapusan langsung yang mengakui rugi pada saat telah terjadi penghapusan piutang dengan mendebit Biaya Piutang tidak tertagih dan mengkredit Piutang Usaha, namun metode ini hanya diperbolehkan apabila jumlahnya tidak material.

 

 

Ø  Metode Cadangan

Untuk metode cadangan penaksiran jumlah piutang yang tidak dapat ditagih dilakukan pada akhir periode ketika perusahaan akan menyusun laporan keuangan untuk digunakan pada periode tersebut. Ada dua dasar yang biasa digunakan untuk menentukan jumlah kerugian piutang tak tertagih, yaitu:

a.       Pendekatan Laporan Laba

Pada pendekatan ini, perhitungan taksiran piutang tak tertagih mendasarkan pada penjualan selama satu periode pelaporan. Untuk memperoleh jumlah taksiran biasanya dilakukan dengan cara mengalikan prosentase tertentu, dengan jumlah penjualan pada periode tersebut.

Untuk memperoleh prosentase piutang tak tertagih dengan menggunakan cara menghitung perbandingan piutang yang tak tertagih atau yang dihapus dengan jumlah penjualan tahun lalu kemudian tinggal disesuaikan dengan periode yang berjalan. Secara logika piutang tak tertagihmuncul karena penjualan kredit, oleh karena itu akan lebih baik jika piutang tak tertagih dihitung dengan menggunakan dasar penjualan kredit. Namun pada praktiknya pemisahan antara penjualan kredit dan debit dapat menimbulkan pekerjaan tersendiri, maka untuk praktisnya prosentase piutang tak tertagih bisa menggunakan dasar jumlah penjualan periode berjalan.




Contoh: Penjualan kredit tahun 2013 adalah Rp 20juta. Berdasarkan pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya manajemen menaksir risiko piutang tak tertagih adalah 5% dari jumlah penjualan kredit, sehingga biaya piutang tak tertagih untuk tahun 2013 adalah Rp 1 juta (5% x 20 juta). Jurnal penyesuaian untuk mencatat taksiran tersebut pada akhir tahun 2013 adalah:

Pendekatan laporan laba tidak memperhatikan saldo rekening cadangan piutang tak tertagih sebelum penyesuaian, meskipun mungkin ada sisa saldo pada rekening cadangan piutang tak tertagih yang berasal dari periode sebelumnya.

b.      Pendekatan neraca atau laporan posisi keuangan

Pada pendekatan ini, cadangan piutang tak tertagih ditentukan dari saldo piutang akhir periode. Cara perhitungan yang bisa dilakukan ada 3 cara yaitu (a) Jumlah taksiran piutang tak tertagih dinaikan sampai prosentase tertentu dari saldo piutang akhir periode, (b) taksiran piutang tak tertagih ditambah dengan prosentase tertentu dari saldo piutang, dan (c) jumlah taksiran piutang tak tertagih dinaikkan hingga suatu jumlah yang dihitung dengan menganalisa umur piutang.

·         Jumlah taksiran piutang tak tertagih dinaikan sampai prosentase tertentu dari saldo piutang akhir periode. Untuk memperoleh cadangan piutang tak tertagih yaitu dengan mengalikan prosentase tertentu terhadap saldo piutang akhir periode, setelah itu hasil perhitungan tadi dikurangi atau ditambah dengan saldo rekening piutang tak tertagih. Misalkan pada 31 Des 2013 rekening piutang sebesar 20 juta dan rekening cadangan piutang tak tertagih menunjukkan saldo kredit sebesar 250.000.




Prosentase piutang tak tertagih ditetapkan sebesar 5% dari saldo piutang. Maka jumlah yang akan dicatat pada jurnal adalah sebesar 1.000.000 (5%x20 juta) dikurangi jumlah sisa saldo pada rekening cadangan piutang tak tertagih (250.000) yaitu 750.000, dengan jurnal sebagai berikut.

    Metode ini menghubungkan cadangan piutang tak tertagih dengan saldo piutang yang ada sehingga menunjukkan jumlah piutang yang diharapkan dapat ditagih. Tapi jika melihat dari sudut pandang laporan laba rugi maka metode tidak dapat menunjukkan berapa taksiran piutang tak tertagih yang sebenarnya untuk periode ini, karena dalam perhitungannya dipengaruhi oleh perhitungan cadangan piutang tak tertagih periode sebelumnya.

Ø  Jumlah cadangan dinaikkan sesuai perhitungan analisa umur piutang. Metode ini membutuhkan penelusuran dengan seksama rekening-rekening pembantu piutang dari masing-masing individu atau pelanggan yang kemudian dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang belum menunggak dan yang menunggak atau melebihi jangka waktu kredit. Selanjutnya rekening individu dan pelanggan menunggak kembali digolongkan berdasarkan jangka waktu tunggakannya, misalnya kurang dari satu bulan, lalu satu hingga dua bulan dan seterusnya. Setelah pengelompokkan berdasar umur tunggakan maka langkah selanjutnya adalah menentukan besaran prosentase dari masing-masing umur tunggakan atau piutang yang tak tertagih.

 

Ø  Contoh penaksiran kerugian piutang tak tertagih

PT. ASTUTI melaporkan pada akhir tahun 2006, 2007 dan 2008 tentang:

Keterangan

2006

2007

2008

Penjualan kredit (net)

Rp 2.000.000

Rp 3.000.000

Rp 2.500.000

Piutang dagang (31 Desember)

Rp 1.000.000

Rp 1.500.000

Rp 1.200.000

 

Taksiran Kerugian Piutang dari 2% dari Penjualan Kredit Bersih

Periode

Perhitungan

Kerugian piutang

Cadangan kerugian

Akhir tahun 2006

2% x Rp 2.000.000

Rp 40.000

Rp 40.000

Akhir tahun 2007

2% x Rp 3.000.000

Rp 60.000

Rp 100.000

Akhir tahun 2008

2% x Rp 2.500.000

Rp 50.000

Rp 150.000

 

Periode

Perhitungan

Cadangan kerugian

Kerugian piutang

Akhir tahun 2006

10% x Rp 1.000.000

Rp 100.000

Rp 100.000

Akhir tahun 2007

10% x Rp 1.500.000

Rp 150.000

50.000

Akhir tahun 2008

10% x Rp 1.200.000

Rp 120.000

-30.000

Taksiran Kerugian piutang dari 10% dari saldo piutang dagang

 

2006

Bad Debt expense

40.000

     Allowance for bad debt

40.000

2007

Bad Debt expense

60.000

     Allowance for bad debts

60.000

2008

Bad Debt expense

50.000

     Allowance for bad debt

50.000

 




 

 

1.      PENCATATAN DENGAN PENDEKATAN LAPORAN LABA-RUGI

Bila penaksiran berdasarkan jumlah penjualan maka jumlah cadangan kerugian yang akan dilaporkan ditentukan sebesar jumlah taksirannya ditambah dengan sadlo cadangan yang masih ada. Contoh : Jurnal cadangan kerugian piutang Jurnal Taksiran kerugian piutang dari Penjualan kredit bersih

 

2006

Bad Debt expense

40.000

     Allowance for bad debt

40.000

2007

Bad Debt expense

60.000

     Allowance for bad debts

60.000

2008

Bad Debt expense

50.000

     Allowance for bad debt

50.000

2.      PENCATATAN DENGAN PENDEKATAN NERACA

Bila penaksiran berdasarkan saldo piutang maka jumlah cadangan kerugian yang akan dilaporkan ditentukan sebesar jumlah taksirannya, sehingga ada dua kemungkinan yaitu apakah saldo cadangan yang masih ada lebih kecil atau lebih besar dari jumlah taksiran tersebut.

a.       Bila cadangan sekarang lebih besar dari saldo cadangan yang ada berarti cadangan Kurang maka harus ditambah jurnalnya:

Bad Debt Expense                 xxx

       Allowance for bad debts          xxx

b.      Bila cadangan saekarang lebih kecil dari saldo cadangan yang ada berarti cadangan Lebih maka harus dikurangi jurnalnya:

Allowance for bad debts     xxx

       Bad Debt Expense               xxx

 

Jurnal Taksiran kerugian piutang dari saldo Piutang dagang

2006

Bad Debt expense

100.000

     Allowance for bad debt

100.000

2007

Bad Debt expense

50.000

     Allowance for bad debts

50.000

2008

Allowance for bad debt

30.000

     Bad Debt expense

30.000

Kesimpulan:

Penaksiran piutang tak tertagih merupakan suatu metode akuntansi yang mengacu pada prinsip akuntansi konservatisme atau kehati-hatian, dan sebagai alat bagi perusahaan untuk menaksir risiko atas kemungkinan tidak tertagihnya suatu potensi pendapatan yaitu piutang. Terdapat dua metode untuk mengakui kerugian piutang tak tertagih yaitu metode langsung dan metode cadangan.

Pada metode cadangan, terdapat beberapa pendekatan untuk menaksir besarnya risiko piutang tak tertagih yaitu pendekatan laporan laba yang mendasarkan risiko piutang tak tertagih pada besarnya penjualan di periode sekarang, dan pendekatan laporan posisi keuangan atau neraca yang mendasarkan risiko piutang tak tertagih pada besarnya saldo piutang akhir periode.

Untuk pendekatan laporan posisi keuangan terdapat 3 cara yaitu (a) Jumlah taksiran piutang tak tertagih dinaikan sampai prosentase tertentu dari saldo piutang akhir periode, (b) taksiran piutang tak tertagih ditambah dengan prosentase tertentu dari saldo piutang, dan (c) jumlah taksiran piutang tak tertagih dinaikkan hingga suatu jumlah yang dihitung dengan menganalisa umur piutang.

Komentar

Postingan Populer